Soroti 3L di Wajo, Muh. Sabri: Itu Karena Adanya Persekongkolan

[caption id="attachment_2240" align="aligncenter" width="778"] Muh. Sabri Abdul Fattah saat menyoroti masalah 3L di kabupaten Wajo pada Ekspose Publik yang dilaksanakan oleh DPC Demokrat Wajo[/caption]

INILAHCELEBES.ID,  WAJO – Ekspose publik yang dilaksanakan oleh tim Desk Pilkada Wajo DPC Partai Demokrat Wajo di gedung Assa’adah, Sabtu (29/7) kemarin tidak hanya memberikan kesempatan kepada para kandidat bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Wajo untuk memaparkan visi dan misinya di hadapan para hadirin.


Hal itu juga dimanfaatkan oleh sejumlah aktivis dan pemerhati politik untuk melontarkan sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada kandidat Balon yang hadir.


Pada kesempatan itu, salah satu pemerhati politik, Muh. Sabri Abdul Fattah menyoroti tiga kebutuhan dasar masyarakat Wajo yang disingkatnya menjadi 3L, yang selama ini dinilainya terabaikan.


3 L yang dimaksud yang pertama adalah Laleng (Jalan). Menurutnya, jalan merupakan akses utama yang mesti diperhatikan untuk memperlancar perkonomian masyarakat.


Dia melihat kondisi jalan di kabupaten Wajo sangat memprihatinkan. Bahkan katanya, ada jalan yang sudah 50 tahun kondisinya tidak berubah-ubah sampai sekarang.


“Ada juga jalan yang dibuat asal-asalan, pekerjaannya sangat tidak baik. Seharusnya, jalan itu bertahan 7 tahun, tapi pada kenyataannya hanya bertahan 3 bulan. Ini karena adanya persekongkolan,” beber Sabri.


Sontak saja hal itu mengundang tepuk riuh dari para hadirin, meski tak diketahui, siapakah yang dimaksud terlibat dalam persekongkolan itu.


Kemudian L kedua yang dimaksud adalah Lampu (Listrik). Sangat miris kata Sabri, Wajo yang dikenal sebagai pemasok listrik terbesar di Sulsel justru masih ada daerahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak menikmati listrik.


“Ini sangat miris, masih banyak masyarakat yang tidak menikmati listrik. Bahkan ada 9 desa belum pernah menikmati listrik sama sekali, padahal sudah berapa puluh tahun Wajo melaksanakan Hari Jadi Wajo,” lanjutnya.


Selanjutnya, L yang terakhir adalah Ledeng (Air). Air ledeng milik PDAM di dalam kota menurut Sabri, juga dari dulu tidak pernah lancar dan mesti menunggu bergiliran.


“Dari dulu sepeti itu, saya saja yang tinggal di dalam kota (BTN Tae) mesti nungu giliran. Air PDAM itu dalam 48 jam, mengalirnya cuma 1 jam, itupun mesti dipakaikan dinamo. Ini dalam kota, bagaimana dengan mereka yang jauh dipinggir kota,” ungkapnya.


Karenanya, Sabri berharap 8 kandidat yang hadir pada kegiatan ekspose publik, mencari solusi untuk keluar dari persoalan lama ini, agar hak-hak dasar masyarakat bisa terpenuhi.


“Para Balon tidak boleh bermimpi dan mulut-mulut mau mensejahterakan rakyat, jika kebutuhan dasar 3 L tidak bisa dipenuhi,” ujar Sabri, yang juga pemilik lembaga kursus Tesol ini.



(Firman)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال