WAJO, InilahCelebes.com - Kementerian Agama (Kemenag) melalui Biro Humas dan Komunikasi Publik sukses menggelar Dialog Media di Ballroom Sallo Hotel, Wajo, pada Jumat (3/10/2025). Acara ini menjadi panggung utama untuk memperkenalkan secara komprehensif agenda besar Kemenag: Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) Internasional 2025.
Mengusung tema "MQK Internasional: Dari Tradisi Indonesia untuk Dunia," kompetisi membaca Kitab Kuning ini disebut sebagai yang pertama kali dilaksanakan dan langsung menyedot perhatian global.
Mengapa Indonesia? Menjadi Kiblat Ajaran Agama
Sekretaris Jenderal Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, menyoroti peran sentral Indonesia dalam konteks keagamaan global. Ia menegaskan bahwa inti dari MQK adalah pembacaan kitab turats (kitab kuning), yang merupakan syarat mutlak bagi seseorang untuk dapat disebut sebagai ulama.
"Kegiatan ini baru pertama kalinya dilaksanakan dan memilih Indonesia sebagai lokasi kegiatan," ujar Prof. Kamaruddin. Ia menambahkan, bahkan di luar negeri, ada anggapan bahwa jika ingin belajar tata cara menjalankan ajaran agama, datanglah ke Indonesia.
Menurutnya, Indonesia telah menjadi rujukan dunia dalam menjalankan ajaran agama dengan baik, termasuk dalam pemanfaatan rumah ibadah.
"Di negara kita, ada sekitar 800.000 masjid dan merupakan yang paling fungsional," ungkapnya. Masjid di Indonesia tak hanya digunakan untuk salat, melainkan juga untuk berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi umat—sebuah praktik yang dianggapnya berbeda dengan banyak masjid di negara lain. Ini sejalan dengan salah satu program prioritas Menag, yaitu pemberdayaan rumah ibadah agar menjadi multifungsi.
Bukan Sekadar Lomba, Tapi Panggung Santri Global
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Dr. H. Basnang Said, menjelaskan bahwa MQK Internasional ini tidak hanya diikuti oleh delegasi dari 34 provinsi di Indonesia, tetapi juga mengundang peserta dari sejumlah negara kawasan ASEAN.
Rangkaian acara yang mendampingi MQK juga tak kalah menarik, meliputi:
- Pramuka Santri
- Night Inspiration dan Fajr Inspiration
- Expo Kemandirian Pesantren
- Halaqah Internasional
Target Kemenag: Swasembada Ulama di Tengah Krisis Keilmuan
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Dr. Thobib Al-Asyhar, meluruskan pemahaman tentang kewajiban membaca Kitab Kuning. "Umat Islam tidak wajib baca kitab kuning, tapi wajib bagi seseorang yang ingin jadi ulama," jelasnya.
Ia menegaskan pentingnya MQK sebagai upaya strategis Kemenag untuk meningkatkan derajat ketakwaan umat dan mengatasi isu penceramah yang keilmuannya tidak memenuhi standar namun justru ditokohkan.
"Untuk itulah Kemenag melaksanakan MQK, salah satunya untuk meningkatkan derajat ketaqwaan kita," tandasnya.
Dr. Thobib berharap, melalui MQK ini, Kemenag dapat mencapai "swasembada ulama", layaknya target swasembada pangan dalam program pemerintah.
MQK Internasional 2025 ini diproyeksikan menjadi tonggak penting dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam khas Indonesia sekaligus menegaskan posisi negara ini sebagai mercusuar moderasi dan rujukan ajaran agama di mata dunia.
(Fhyr/IC)

