WAJO, InilahCelebes.com – Jika kita berada di Lapangan Merdeka, Sengkang, ada satu pemandangan yang cukup mencolok dan mudah dikenali, yakni sebuah antena tinggi yang menjulang ke langit. Antena tersebut tampak jelas dari kawasan lapangan, berdiri tidak jauh dari Masjid Agung Ummul Quraa Sengkang, yang lebih akrab disebut masyarakat sebagai Masjid Raya Sengkang.
Bagi sebagian orang, mungkin antena itu hanya dianggap sebagai bagian dari lanskap kota. Namun, siapa sangka, antena yang selama ini terlihat dari kejauhan itu merupakan antena pemancar Radio Suara As’adiyah (RSA), radio yang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Wajo.
Siapa sih yang tidak kenal dengan Radio Suara As’adiyah? Radio tertua di Kabupaten Wajo ini pernah berjaya pada masanya, jauh sebelum telepon pintar berbasis Android merajai dunia digital seperti sekarang.
Dulu, radio ini bukan sekadar perangkat elektronik yang mengeluarkan suara. Ia menjadi teman keseharian, sumber informasi, sarana dakwah, sekaligus penghubung kerinduan antara keluarga yang terpisah jarak. Suara penyiar dan lantunan ceramah berbahasa Bugis menjadi bagian dari kenangan yang masih melekat di hati banyak orang.
Kita tentu masih ingat bagaimana ceramah-ceramah berbahasa Bugis kerap menemani waktu luang. Tak hanya itu, Radio Suara As’adiyah juga dimanfaatkan masyarakat untuk menyampaikan kabar kepada sanak saudara di tanah rantau, terutama mereka yang merantau ke wilayah Sulawesi Tenggara, seperti Kendari, Kolaka, hingga kawasan transmigrasi yang dikenal dengan sebutan SP 1 dan daerah sekitarnya.
Kala itu, ketika telepon belum semudah dan secanggih sekarang, radio menjadi salah satu jembatan komunikasi yang sangat berarti. Melalui siaran berita panggilan, sebuah kabar bisa menjangkau keluarga yang berada jauh dari kampung halaman.
“Berita panggilan ditujukan kepada keluarga di Kendari, Kolaka, SP 1, dan seterusnya. Ipurennu ki lesu ma Selatan nasaba engka deceng’ na anure ta. Ajja tallufai tiwi serre, lasuna, manu sipasang.”
Kurang lebih, pesan itu bermakna: diharapkan pulang ke tanah Bugis atau Wajo karena ada kabar baik mengenai keponakan kita yang akan menikah. Jangan lupa membawa serai, bawang, dan sepasang ayam.
Sebuah pesan sederhana, tetapi sarat makna. Di dalamnya tersimpan tradisi, kekeluargaan, dan kebiasaan masyarakat Bugis yang masih kental dengan budaya gotong royong dalam mempersiapkan hajatan keluarga.
Serai, bawang, dan sepasang ayam bukan sekadar daftar barang bawaan. Bagi mereka yang memahami tradisi tersebut, pesan itu menghadirkan gambaran tentang suasana kampung, persiapan pesta pernikahan, serta kerabat yang pulang dari perantauan untuk berkumpul bersama keluarga.
Namun, bukan hanya kabar bahagia yang disampaikan melalui radio. Dalam suasana yang berbeda, berita panggilan juga menjadi sarana menyampaikan kabar duka atau kondisi keluarga yang sedang sakit keras.
“Sibola-bola ta lesu ri Sengkang, nasaba maladde lasanna ambo ta. Ufe’pa yakku taratte i.”
Pesan tersebut kurang lebih bermakna: diharapkan segera pulang ke Sengkang karena ayah kita sedang sakit parah.
Bayangkan, betapa berharganya siaran semacam itu pada masanya. Bagi keluarga yang berada jauh di perantauan, suara dari radio bisa menjadi satu-satunya jalan untuk mengetahui keadaan orang-orang tercinta di kampung halaman. Ada harapan yang tumbuh ketika mendengar kabar baik, tetapi ada pula kecemasan dan kesedihan ketika berita duka yang disampaikan.
Kini, di tengah kemudahan komunikasi melalui telepon pintar, pesan seperti itu mungkin terdengar sederhana, bahkan asing bagi generasi muda. Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya, berita panggilan dari Radio Suara As’adiyah adalah bagian dari perjalanan hidup yang sulit dilupakan.
![]() |
| Tiga penyiar RSA yang saat ini masih aktif membersamai pendengar RSA. Foto telah diolah menggunakan teknologi AI. |
Sekilas Sejarah Radio Suara As’adiyah
Radio Suara As’adiyah didirikan pada 13 September 1968 oleh Anre Gurutta KH. Muhammad Yunus Martan, pemimpin Pondok Pesantren As’adiyah. Kehadirannya menjadi salah satu langkah inovatif dalam mengembangkan dakwah dan syiar Islam melalui media penyiaran di Sulawesi Selatan.
Sejarah Berdiri dan Perkembangan
1968 – Awal berdiri
Radio Suara As’adiyah mulai mengudara sebagai radio amatir dengan kekuatan pemancar sederhana sekitar 10 watt. Studio awalnya berada di Masjid Jami Sengkang. Dari tempat sederhana tersebut, siaran dakwah mulai menjangkau masyarakat dan memperkenalkan radio sebagai media penyebaran informasi keagamaan.
1969 – Mendapat pengesahan izin
Pada 2 Juli 1969, radio ini memperoleh pengesahan izin dari Pemerintah Daerah. Kehadirannya menjadikannya salah satu pelopor penyiaran radio di kawasan Bosowa, yang meliputi Bone, Soppeng, dan Wajo.
1973 – Transformasi kelembagaan
Pada 1973, radio ini mengalami perubahan status kelembagaan menjadi Radio Suara As’adiyah. Lokasi studionya kemudian dipindahkan ke samping Masjid Raya Sengkang, di Jalan Masjid Raya Nomor 100.
Dari lokasi inilah perjalanan penyiaran RSA terus berlanjut, menyertai perkembangan masyarakat dan menjadi bagian dari sejarah penyiaran serta dakwah Islam di Kabupaten Wajo.
Lebih dari Sekadar Radio
Sejak awal berdiri, Radio Suara As’adiyah memiliki peran penting sebagai media dakwah. Siarannya berfokus pada penyebaran nilai-nilai keislaman, pengajian, ceramah agama, serta berbagai informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Radio ini juga dikenal sebagai salah satu rujukan informasi waktu salat dan siaran keagamaan bagi masyarakat serta sejumlah masjid di Kabupaten Wajo, Bone, dan Soppeng.
Kini, RSA terus mengikuti perkembangan zaman. Radio Suara As’adiyah mengudara pada frekuensi 103,2 MHz FM dan dapat diakses secara digital melalui layanan Suara As’adiyah 103.2 FM.
Teknologi memang telah berubah. Telepon pintar kini memungkinkan kita mengirim kabar dalam hitungan detik, melakukan panggilan video, bahkan melihat wajah keluarga yang berada jauh di perantauan. Namun, ada pengalaman yang tidak selalu bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi: menunggu suara penyiar membacakan berita panggilan, mendengarkan ceramah Bugis, atau mendengar nama kampung halaman disebut dari pengeras suara radio.
Antena yang menjulang di dekat Lapangan Merdeka dan Masjid Raya Sengkang itu pun dapat menjadi pengingat akan perjalanan panjang tersebut. Di balik bentuknya yang berdiri tegak, tersimpan cerita tentang dakwah, kebersamaan, kabar pernikahan, berita duka, dan kerinduan yang pernah melintasi jarak melalui gelombang radio.
Serre, lasuna, manu sipasang. Tiga hal sederhana yang mungkin terdengar lucu bagi generasi sekarang, tetapi menyimpan begitu banyak kenangan bagi mereka yang pernah akrab dengan siaran Radio Suara As’adiyah.
Sebab, pada masanya, RSA bukan sekadar radio. Ia adalah suara kampung halaman, penghubung keluarga, dan saksi bisu kehidupan masyarakat Wajo sebelum dunia digital mengambil alih cara kita berkomunikasi. (Fhyr/IC)

