PMII Wajo Gelar Aksi Unjuk Rasa, Soroti Tambang Ilegal hingga Parkiran Semrawut


WAJO, InilahCelebes.com, Wajo - Ratusan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) turun ke jalan menyuarakan sejumlah aspirasi terkait isu nasional dan isu lokal, Senin (15/9/25).

Dengan menggunakan 1 mobil komando dan diikuti ratusan sepeda motor, massa memulai aksinya di bundaran tugu BNI, Jalan Jenderal Sudirman, Sengkang dengan menyampaikan sejumlah tuntutan yang akan disuarakan di kantor DPRD Kabupaten Wajo.

"September hitam ini, masih banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi tapi tak terselesaikan sampai saat ini. Banyak suara-suara kritis yang akhirnya dibungkam bahkan berakhir dengan penghilangan nyawa para aktivis yang menyuarakan kebenaran," ungkap Jenderal Lapangan, Muh Amirul Mukminin.

Usai berorasi, massa kemudian konvoi menuju Kantor DPRD Wajo dengan pengawalan ketat dari personel Polres Wajo.

Keranda Mayat dan Yasin Warnai Orasi di Depan Kantor DPRD Wajo
Di depan Kantor DPRD Wajo, massa kembali melanjutkan orasinya. Mengawali aspirasinya, PMII mengajak seluruh pihak yang hadir untuk melafalkan surah Yasin bersama-sama sambil membakar dupa.

Tak hanya pembakaran ban, aksi tersebut juga menampilkan cosplay tikus berdasi dan keranda mayat sebagai simbol matinya hati nurani pejabat di negeri ini yang tidak peduli dengan nasib rakyatnya.

Di hadapan Anggota DPRD Wajo, Ketua Cabang PMII Wajo, Irfan mengurai sejumlah aspirasi, di antaranya maraknya tambang ilegal, termasuk tambang pasir di Kecamatan Sabbangparu yang tidak memperhatikan dampak lingkungan.

"Kami minta kepada aparat hukum dan OPD terkait untuk menutup tambang-tambang ilegal yang masih beroperasi di Wajo. Kalau di Sabbangparu, tambang pasir sangat meresahkan warga karena sudah sering menyebabkan kecelakaan. Begitu juga dengan truk pengangkut material tambang yang tidak menutup muatannya sehingga membahayakan pengendara lain," ujarnya.


Irfan juga menyoroti semrawutnya parkiran, khususnya di Kota Sengkang. Banyaknya bangunan tempat usaha yang tidak menyediakan lahan parkir yang cukup, bahkan kian menjamur pelaku usaha yang menggunakan trotoar bahkan badan jalan untuk usahanya.

Kondisi tersebut, kata Irfan, berpotensi menyebabkan kemacetan bahkan kecelakaan lalu lintas.

Kemudian, PMII juga menyoroti sejumlah Anggota DPRD Wajo yang tidak berdomisili di Kecamatan Tempe yang dinilai kerap jadi penyebab tidak kuorumnya rapat DPRD Wajo.

"Kami minta Anggota DPRD Wajo untuk jalankan aturan yang ada. Kalau tidak bersedia berdomisili di Kecamatan Tempe, maka sebaiknya tunjangan perumahan Anggota DPRD Wajo dicabut saja. Apalagi saat ini negara kita sedang mengalami efisiensi anggaran," tegasnya.

Ketua DPRD Wajo, Firmansyah Perkesi bersama Anggota DPRD Wajo yang menerima aspirasi berjanji akan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan oleh PMII Wajo melalui Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) pada 22 September pekan depan.

"Insyaallah kita akan tindaklanjuti di RDPU dengan menghadirkan komisi yang membidangi dan pihak-pihak terkait," kata Firmansyah Perkesi.

Aspirasi ditutup dengan lantunan salawat nabi pertanda aksi berakhir dengan damai. (Fhyr/IC)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال