Tehang, Nenek Miskin di Wajo yang Hidup Jauh dari Perhatian Pemerintah

Gubuk reot milik Tehang (61), warga Kelurahan Uraiyang, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo yang sangat butuh perhatian

INILAHCELEBES.ID, Wajo
– Kehadiran pemerintah, dari tingkat Desa hingga tingkat pusat, diharapkan menjadi ‘pahlawan’ bagi warganya. Apa yang menjadi kebutuhan, keluhan, dan kesusahan warga, pemerintah harus tampil menjadi solusi.


Sehingga, menjadi satu tanda tanya ketika ada warga yang hidup penderitaan dan kemiskinan selama bertahun-tahun, tanpa tersentuh bantuan sedikitpun dari pemerintahnya. Kemanakah peran mereka di saat dibutuhkan oleh warganya? Apakah mereka tidak tahu, tidak dengar, tidak lihat, atau hanya pura-pura?

Ada Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Kepala Dusun/Lingkungan, Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, sampai Presiden. Ditambah lagi, para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baik pusat maupun daerah, yang sering datang dengan janji-janji manisnya.

Hal itupula yang mungkin dirasakan oleh Tehang, seorang nenek tua yang berusia 61 tahun, warga Kelurahan Macanang, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Sejak mengalami musibah kebakaran pada tahun 2012 silam, yang menghanguskan rumah miliknya satu-satunya, sejak itupula dirinya tidak pernah lagi merasa bahwa dirinya memiliki pemerintah.

Menurut Tehang, sejak rumahnya terbakar hingga saat ini, dirinya tidak pernah tersentuh bantuan dari pemerintah sejak beberapa tahun terakhir ini. Tinggal di gubuk reotnya yang dibangun dari sisa-sisa kebakaran, kondisi nenek Tehang yang sudah tua renta ini juga sangat jauh dari perhatian publik luas.

Di usianya yang senja, dia tetap berupaya memaksakan tenaganya untuk menghidupi dirinya dengan melakukan apa saja yang bisa menjadi penyambung hidupnya, sebab dirinya terlanjur pupus pengharapan pada pemerintah.

“Hidup sendiri adalah takdir. Tanpa belas kasih dari pemerintah mungkin sudah ketentuan Sang Maha Kuasa, nak,” ujarnya lirih.

Tinggal di gubuk reot tak layak huni, berukuran sekitar 3x4 meter, beratapkan terpal yang sudah bocor, tak memiliki kamar mandi dan WC, dan nyaris roboh sehingga ditopang dengan menggunakan bambu, Tehang terus bersabar, meski kondisinya saat ini mulai sakit-sakitan. Hampir setiap hari merasakan sakitnya migrain, nafasnya kadang tersendat, bahkan ada dugaan sang nenek menderita Tuberkulosis.


Dalam kondisi yang sangat memprihatinkan itu, dia mengaku, tidak lagi menerima sembako selama beberapa tahun ini dan tidak pula tercatat sebagai penerima bantuan dana atau bedah rumah dari pemerintah sampai saat ini.


“Saya tidak tahu apa penyebabnya, mungkin karena saya tidak pernah menikah sehingga saya tidak bisa lagi menerima bantuan dari pemerintah,” lanjutnya dengan nada sedih.

Untuk makan sehari-hari, ia juga menggantungkan nasibnya pada sebidang tanah milik saudaranya yang kemudian dipekerjakan kepada tetangga. Dari hasil panen itulah dirinya mendapatkan sedikit biaya dari bagi hasil. Sesekali, dia juga diberi uang dari orang-orang yang dermawan.

“Kalau bisa, saya mau sekali dibantu, nak. Saya juga tidak bisa apa-apa karena saya sudah tua, umur pun tak seberapa lagi,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Dengan adanya tulisan ini, kami berharap Pemerintah Kabupaten Wajo bisa menaruh sedikit perhatian buat beliau. Apalagi, Visi Pemerintah Kabupaten Wajo yang saat ini dinahkodai oleh Amran Mahmud-Amran SE adalah mewujudkan masyarakat Wajo yang maju dan sejahtera. Tentu hal ini akan menjadi salah satu indikator keberhasilan dari visi tersebut.

Semoga juga bisa membukakan pintu hati para dermawan untuk kiranya berkenan menyisihkan sedikit rejekinya buat membantu Tehang. Wassalam. (A. Yuli)

Editor: Fhyr

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال